Gerakan belanja di kota sendiri

gambar dari iwaniwe.com

Entahlah,  sudah berapa lama pastinya saya tinggal di surabaya. Mau bagaimana lagi , disinilah mungkin rejeki saya berada. Bolak-balik cari kerja di gresik tapi ndak pernah berhasil *ironis*
Di kota ini pulalah sebagian besar waktu aku habiskan, ya makan, ya belanja, ya ngemil.
*sengaja saya ndak menggunakan kata jajan, karna konotasinya kog negatif*

Suatu kali, saya pergi ke nikahan seorang teman, bareng2 teman urban juga. Disana ketemu teman2 lama , mereka juga kerja di surabaya
bahkan di kota lain. Kita ngobrol mulai dari mbahas ‘belah duren’ sampai ngomongin masalah ekonomi gresik.
*padahal semua yang disini orang2 teknik lhoo*.
Kenapa ya ekonomi gresik kog dari dulu seperti itu2 saja. tertinggal jauh dari surabaya. Padahal klo lihat perbandingan wilayah, penduduk dan potensinya, gresik seharusnya bisa (paling tidak) nyrempet2 surabaya.

Awalnya tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiran saya akan hal itu, pendapatan yang saya peroleh dari kota ini, ternyata sebagian besar juga saya gunakan di kota ini. Bahkan saya menganganggap diri saya turut membantu perputaran roda ekonomi. Apalagi ketika di kota ini sering diselenggarakan
 “surabaya shooping festival” , “Surabaya Big Sale” atau pula “festival pasar surabaya”,  saya pun gak mau ketinggalan ikut mensukseskan program pemerintah.
Paling tidak inilah kesempatan saya berbalas budi kepada kota ini.
hal yang sama, mungkin juga dialami teman2 urban dari gresik yang lain.

Seandainya saya dan teman2 urban membelanjakan 500ribu saja dalam satu bulan, dan jika teman2 urban ada 1000 orang, berarti sudah setengah milyar uang beredar disini.

Bagaimana dengan adik2 mahasiswa yang kuliah disini??
meski tidak 100%, tapi saya yakin sebagian besar biaya kuliah mereka disubsidi oleh orang tua mereka dari gresik.
Seandainya adik2 mahasiswa urban membelanjakan 500ribu saja dalam satu bulan, dan ada 1000 orang mahasiswa, berarti sudah setengah milyar uang berpindah dari gresik ke surabaya.

Angka 500ribu bukanlah angka sebenarnya, pasti jauuuhhh lebih besar dari itu, karna angka diatas hanya cukup buat bayar kost sama makan rawon, tapi  lauk pake krupuk.

Memang untuk mengembalikan duit diatas , agar berputar di gresik, rasanya mustahil. Usaha untuk mengembalikan meski tidak secara signifikan, seandainya 10%nya saja bisa kembali ke gresik , itu cukup lumayan.
Caranya mudah dan sederhana. mulai saat ini saya membiasakan berbelanja kebutuhan sehari2 yang bisa di beli di gresik,
Salah satu kesempatan berbalas budi untuk kota kelahiran saya.

Sabun, odol, pulsa, sandal,balsem, tisu dan kira2 apa yang saya bisa beli dari sana, ya saya beli dari sana. Bahkan jika memungkinkan, beli dari toko tetangga rumah saya di kampung.
Prinsip saya sederhana, kalo kita beli dari tetangga atau saudara terdekat kita, sedikit banyak pasti akan kembali kepada kita juga.
seandainya tidak kembali pun, paling tidak saat lebaran, kita bisa mencicipi kue di rumah mereka. dan itu juga hasil laba dari barang yang kita beli.

Perubahan besar tidak akan terjadi jika tidak dimulai dari hal2 yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai sekarang juga.
Namun sisi baiknya adalah, blog ini lahir dan saya tulis di surabaya.
*ndak ada hubungannya*

About maseko cahyo


18 responses to “Gerakan belanja di kota sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: